Api di Bukit Menoreh 17 - SH. Mintarja
“Hem” orang bertopeng itu menarik nafas “Pedang yang aneh. Besar, tumpul namun runcing seruncing jarum. Kenapa kau membuat pedang seaneh ini?”
Widura tidak menjawab. Tetap ia menggeram. Terdengar giginya gemeretak. Namun ia masih tegak ditempatnya.
“Widura, kita akhiri pertempuran ini. Aku kembalikan pedangmu. Nah, berlatihlah terus” Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing itu berkata “Sedayu, kau harus bekerja lebih berat supaya muridmu ini menjadi lekas masak. Ketahuilah, bahwa Sidantipun selalu mendapat tempaan dari gurunya. Ki Tambak Wedi setiap saat mengunjunginya. Bukankah muridmu itu pimpinan laskar Pajang disini? Apabila Sidanti kelak melampauinya, maka wibawanya akan berkurang”

