Heritage of Java
javanese culture and society
Sign Up!
Login
Welcome to Heritage of Java
Friday, September 10 2010 @ 03:10 PM CDT
Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 17 - SH. Mintarja

“Hem” orang bertopeng itu menarik nafas “Pedang yang aneh. Besar, tumpul namun runcing seruncing jarum. Kenapa kau membuat pedang seaneh ini?”
Widura tidak menjawab. Tetap ia menggeram. Terdengar giginya gemeretak. Namun ia masih tegak ditempatnya.
“Widura, kita akhiri pertempuran ini. Aku kembalikan pedangmu. Nah, berlatihlah terus” Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing itu berkata “Sedayu, kau harus bekerja lebih berat supaya muridmu ini menjadi lekas masak. Ketahuilah, bahwa Sidantipun selalu mendapat tempaan dari gurunya. Ki Tambak Wedi setiap saat mengunjunginya. Bukankah muridmu itu pimpinan laskar Pajang disini? Apabila Sidanti kelak melampauinya, maka wibawanya akan berkurang”

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 16 - SH. Mintarja

“Kalau jawabku salah, maka aku tak tahu, dimana ia sekarang”
“Jangan bohong” potong Widura, ”Pada malam Untara hilang kau berada dirumah Ki Tanu Metir”
“He” Kiai Gringsing terkejut, dan Agung Sedayupun terkejut. Dari mana pamannya tahu, bahwa pada malam itu Kiai Gringsing berada dirumah Ki Tanu Metir. Dan ternyata Kiai Gringsing pun bertanya “Siapa yang berkata demikian?”

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 15 - SH. Mintarja

Sore itu ketika Agung Sedayu pergi keperigi dibalakang rumah, dijumpainya Sekar Mirah sedang menjinjing kelenting. Gadis itu terkejut dan berdebar-debar. Dengan hormatnya ia menyapa “Selamat sore tuan”.

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 14 - SH. Mintarja

Meskipun demikian Widura mempertimbangkan pula pendapatnya. Tanpa disengajanya, sekali lagi ia melihat akibat kekasaran Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Kriya yang lemah itu kini masih berbaring dipembaringannya. Namun tiba-tiba pula ia menjadi heran. Luka itu terlalu berat. Namun penderitaan orang itu agaknya telah jauh berkurang. Karena itu tiba-tiba ia bertanya “Ki Sanak, apakah luka-lukamu tak pernah diobati?”

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 13 - SH. Mintarja

“Kau lihat telapak-telapak kaki kuda?” bertanya Widura.
“Ya” sahut Sedayu. “Malam lusa aku datang berkuda bersama-sama kakang Untara”
Widura mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian “Juga kebelakang rumah?”
Agung Sedayu menggeleng. Dan diikutinya pandangan mata Widura. Dilihatnya telapak-telapak kaki kuda dari belakang rumah Ki Tanu. “Oh” desisnya. “Pasti ada orang lain yang datang kerumah ini sesudah aku”

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 12 - SH. Mintarja

Sekar Mirah menyerutkan keningnya “Biarlah. Kakang terlalu manja”
Dan dari gandok itu terdengar kembali suara Swandaru “Mirah, he Mirah. Dimana kain parangku?”
“Cari sendiri” sahut adiknya berteriak tidak kalah kerasnya.
“Ayo carikan” bentak kakaknya. “Kalau tidak, aku tak mau mengisi jambangan kalau kau mandi”.
Sekar Mirah tidak menjawab, namun terdengar suara Sindanti “Jangan terlalu manja Swandaru”.

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 11 - SH. Mintarja

Keadaan Sidantipun semakin lama semakin menjadi sulit. Hudaya dan Citra Gati bahkan kemudian tak dapat diharapkannya lagi. Setiap orang Pajang yang mencoba melepaskan Hudaya dan Citra Gati dari lawan-lawan mereka selalu mendapat lawan-lawan yang baru.

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 10 - SH. Mintarja

“Siapa kau?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari rombongan orang-orang itu bertanya.
Sonya tidak menjawab. Tetapi dipenuhinya perintah Widura yang terakhir. Segera ia meloncat dan berlari kembali ke Sangkal Putung. Dua orang yang akan menangkapnya itupun mengejarnya. Namun ketika Sonya berlari lewat perapatan dan kedua orang itu mengejarnya terus, tiba-tiba saja keduanya terbanting jatuh dan tidak bangun kembali.

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 9 - SH. Mintarja

Orang setengah umur itu menjadi kecewa. Demikian pula agaknya beberapa orang lain. Terdengar seorang diantara mereka berkata “Lalu siapakah yang akan berhadapan dengan Macan yang garang itu?”

Email Article To a Friend View Printable Version

Api di Bukit Menoreh 8 - SH. Mintarja

Agung Sedayu puas dengan angan-angannya. Ia puas dengan sikap yang disimpulkannya. Katanya didalam hati “Memang Tuhan tak akan memaafkan kesalahan kita, kalau kita tak juga memaafkan kesalahan orang lain kepada kita”

Visit Our WEB

 
 
 
 
 

Topics

My Account





Sign up as a New User
Lost your password?

Events

There are no upcoming events

Who's Online

Guest Users: 5

Poll

Isi PORTAL mana yang menarik

What is the best new feature of glFusion?

  •  Audio
  •  Sastra Jawa
  •  Tokoh Jawa
  •  Gamelan
  •  Falsafah
  •  Tradisi Jawa
This poll has 1 more questions.
Other polls | 36 votes | 0 comments

What's New

Stories

No new stories

Comments last 2 days

No new comments

Trackbacks last 2 days

No new trackbacks

Links last 2 weeks

No new links

Files last 14 days

No new files
No new comments

Media Gallery last 7 days

No new media items