Api di Bukit Menoreh 15 - SH. Mintarja
Sore itu ketika Agung Sedayu pergi keperigi dibalakang rumah, dijumpainya Sekar Mirah sedang menjinjing kelenting. Gadis itu terkejut dan berdebar-debar. Dengan hormatnya ia menyapa “Selamat sore tuan”.
Agung Sedayu mengangguk pula sambil menjawab singkat “Selamat sore”. Tetapi kemudian ia berjalan terus.
Sekar Mirah mengawasinya pada punggungnya. Sekali ia menarik nafas, sambil bergumam “Benar juga kata orang, anak muda itu sangat pendiam”.
Meskipun demikian Sekar Mirah yang baru saja melihat Sedayu itu, mempunyai kesan yang aneh. Gadis itu, sebelumnya senang bergaul dengan Sidanti, karena tidak ada orang lain yang lebih sesuai dengan dirinya dalam pergaulannya selain anak itu. Namun tak pernah ia merasakan sesuatu yang mendebarkan jantungnya. Setiap hari ia bertemu, bercakap bahkan bergurau dengan Sidanti. Bahkan pernah juga Sekar Mirah bertanya-tanya kepada dirinya, apakah Sidanti itu benar-benar menarik hatinya. Namun ia tak pernah menemukan jawaban.
“Kenapa aku ributkan anak muda itu” katanya didalam hati. “Biarlah ia berbuat sesuka hatinya. Pendiam, pemurung atau apa saja”. Dan Sekar Mirah kemudian mencoba melupakan kesan itu sedapat-dapatnya.
Pada malam itu, setelah kademangan Sangkal Putung menjadi sepi, maka Widura yang belum juga tertidur, membangunkan Agung Sedayu perlahan-lahan. Ada sesuatu yang akan disampaikan kepada kemenakannya. Sesuatu yang tak boleh diketahui oleh orang lain. Sikap anak buahnya kepada Agung Sedayu, sejak permulaan telah keliru. Dengan demikian kedudukan Agung Sedayu benar-benar dalam kesulitan. Mereka menganggap Agung Sedayu, adik Untara itu, setidak-tidaknya akan dapat menentramkan hati mereka, apabila Tohpati datang kembali. Karena itu, apabila benar demikian, apakah jadinya Agung Sedayu itu? Sebelum ia bertemu dengan Macan Kepatihan ia pasti sudah mati ketakutan.
Ketika Agung Sedayu membuka matanya, maka dilihatnya pamannya duduk disampingnya. Sambil menggosok matanya, Agung Sedayu bangkit duduk dimuka pamannya.
“Sedayu” bisik Widura, “Marilah ikut aku”.
“Kemana paman?” bertanya Sedayu terkejut.
“Marilah. Setiap malam aku berkeliling kademangan, melihat gardu-gardu peronda”.
“Apakah paman ingin aku ikut berkeliling?” Sedayu menjelaskan.
Widura mengangguk, “Ya, kita berdua”.
“Berdua?” Sedayu semakin terkejut.
“Jangan takut Sedayu. Kita berada dalam lingkaran kita sendiri. Penjagaan di kademangan ini sedemikian ketatnya, sehingga seorang asingpun tak akan dapat memasuki”.
“Kalau demikian, apa gunanya paman berkeliling?”
“Melihat, apakah tugas-tugas itu dilakukan dengan baik. Kalau tidak, jangankan seorang, bahkan seluruh laskar Tohpati akan dapat masuk tanpa kita ketahui”.
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Apakah sebabnya pamannya membawanya serta. Pekerjaan itu sama sekali tidak menarik hatinya. Dalam malam yanag sedemikian gelapnya, berjalan menyusuri jalan-jalan desa, jalan-jalan yang sempit dan sunyi. Apalagi setiap saat mereka akan dapat berjumpa dengan bahaya. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat menolak ajakan itu. Dengan hati yang berat, ia menggeliat, kemudian berdiri dan membenahi pakaiannya.
“Bawalah kerismu, Sedayu” kata pamannya.
Agung Sedayu terkejut. Teringatlah ia kepada kakaknya. Pada saat mereka meninggalkan Jati Anom, kakaknya itu berkata juga kepadanya, seperti pamannya itu.
Dan tiba-tiba saja Sedayu bertanya “Kenapa aku harus bersenjata? Apakah kita akan bertempur?”
Pamannya tersenyum, namun hatinya mengeluh melihat kecemasan diwajah kemenakannya. Jawabnya “Kita adalah laki-laki. Didaerah yang gawat seperti Sangkal Putung setiap laki-laki harus bersenjata”.
Agung Sedayu tidak menjawab, hanya debar jantungnya menjadi semakin cepat. Dengan ragu-ragu diraihnya kerisnya dari pembaringan pamannya dan kemudian diselipkannya diikat pinggangnya. Meskipun demikian, Agung Sedayu tidak tahu pasti, apakah ia akan dapat menggunakannya.
Mereka berduapun segera melangkah keluar. Dipendapa mereka melihat beberapa orang berbaring tidur dengan nyenyaknya. Sidanti, yang tidur disudut, sudah tidak gelisah lagi. Agaknya lukanya telah berangsur baik. Widura melihat anak muda itu sambil mengerutkan keningnya. Tenaga Sidanti benar-benar diperlukannya. Namun sifat-sifatnya agak kurang menyenangkan. Tinggi hati, bahkan agak sombong dan kurang patuh pada perintah-perintahnya. Mungkin anak itu merasa, bahwa di Sangkal Putung itu tak seorangpun yang dapat menyamai kesakitannya. Bahkan Widura sendiri agaknya tidak melebihinya.
Mereka berdua kemudian melintas dihalaman. Ketika mereka sampai diregol, beberapa orang penjaga menganggukkan kepalanya sambil bertanya “Apakah kakang Widura akan pergi berkeliling?”
“Ya” sahut Widura
“Siapakah diantara kami yang akan kakang bawa?” bertanya mereka pula.
Widura menggeleng, sahutnya “Tidak ada. Kami akan pergi berdua”
Agung Sedayu menjadi heran. Kenapa pamannya tidak membawa serta beberapa orang teman? Apakah itu tidak terlalu berbahaya? Tetapi ia tidak bertanya. Betapapun Sedayu masih juga merasa malu seandainya orang-orang lain mengetahui betapa kecil jiwanya.
Ketika Widura dan Agung Sedayu telah hilang tenggelam dalam malam yang gelap, terdengar salah seorang penjaga regol itu bergumam “Kakang Widura telah membawa kemenakannya. Itu berarti, bahwa ia telah pergi bersama lima enam orang dari antara kita. Bahkan lebih”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan salah seorang dari mereka berkata “Anak muda itu sangat pendiam”
“Demikianlah agaknya” sahut yang lain. “Orang yang yakin akan dirinya, biasanya tidak banyak ribut dan banyak bicara”
Orang diregol itupun kemudian berdiam diri, namun mereka tidak kehilangan kewaspadaan.
Widura dan Agung Sedayu berjalan menyusuri jalan-jalan desa yang disaput oleh hitamnya malam. Ketika Agung Sedayu menengadahkan wajahnya, dilihatnya awan yang gelap mentakbiri langit. Sesaat-sesaat tampak lidah api seakan-akan menjilat ujung-ujung pepohonan dikejauhan.
Widura dan Agung Sedayu singgah dari satu gardu kegardu yang lain. Mereka melihat betapa anak buah Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung bersiaga, sebab mereka menyadari, bangkit atau tenggelam, kademangan Sangkal Putung itu berada ditangan mereka.
Tetapi Agung Sedayu tidak dapat menenangkan dirinya. Setiap kali ia selalu cemas, apakah tidak mungkin seorang, dua orang atau lebih, mengendap diparit-parit atau dibelakang gerumbul-gerumbul, dan dengan tiba-tiba menyergap mereka. Namun ia tidak berani bertanya kepada pamannya.
Sampai diujung desa, Widura masih berjalan terus. Mereka kini lewat dijalan diantara bentangan sawah yang luas. Meskipun jarak jangkau pandangan mata mereka tidak dapat menembus malam yang kelam, namun mereka melihat juga batang-batang padi yang rimbun.
Hati Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin cemas, sejalan dengan jarak mereka yang semakin jauh dari induk desa Sangkal Putung. Karena itu akhirnya ia tidak dapat menahan kekhawatirannya, sehingga ia terpaksa bertanya “Kemanakah kita ini paman?”
“Jangan takut Sedayu. Desa didepan, masih dirondai oleh kawan sendiri “ jawab pamannya.
Agung Sedayu terdiam, namun detak jantungnya menjadi semakin deras. Desir angin yang menggerakkan batang-batang padi terdengar seperti suara hantu yang merintih-rintih.
Agung Sedayu terkejut ketika pamannya berkata “Kita belok kekanan Sedayu, lewat pematang”
Sebelum Agung Sedayu menjawab, Widura telah meloncati parit. Karena itu tak ada yang dapat dilakukan oleh anak muda itu selain mengikutinya dibelakang.
Sesaat kemudian mereka berdua sampai pada suatu bentangan tanah lapang yang sempit. Sebuah puntuk kecil yang ditimbuhi oleh batang-batang ilalang dan sebuah pohon kelapa sawit. Bulu-bulu tengkuk Agung Sedayu mulai meremang. Daerah ini tampak sepi. Terlalu sepi dan menakutkan.
“Sedayu” berkata Widura perlahan-lahan. “Puntuk inilah yang dinamai orang Gunung Gowok”
Seluruh wajah kulit Agung Sedayu terasa seakan-akan berkeriput. Nama itu mengingatkannya kepada sebuah ceritera tentang Kiai Gowok.
Kiai Gowok menurut pendengarannya adalah semacam hantu yang berparas tampan. Meskipun ia tidak suka mengganggu orang namun kadang-kadang memerlukan sekali-sekali menemui gadis-gadis cantik. Karena itu tiba-tiba ia melangkah mendekati pamannya.
Pamannya melihat, batapa Agung Sedayu menjadi takut mendengar nama puntuk itu, maka katanya “Jangan hiraukan ceritera tetek bengek tentang puntuk itu”
Agung Sedayu tidak menjawab. Sedang pamannya berkata terus “Sedayu, bersiaplah. Kita mengadakan latihan untukmu”
Agung Sedayu menjadi heran. Latihan apakah yang dimaksud oleh pamannya. Apakah ia harus melatih diri, untuk tidak takut dengan cerita-cerita tentang hantu. Dan didengarnya pamannya meneruskan “Sedayu, kau harus menyadari keadaanmu. Hampir setiap orang di Sangkal Putung menganggapmu sebagai seorang pahlawan. Mereka menyangka bahwa kau memiliki kesaktian dan ilmu tata bela diri setidak-tidaknya mendekati kakakmu Untara. Aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi seandainya pada suatu kali kau terpaksa terlibat dalam suatu perkelahian dengan siapapun. Apalagi kalau Tohpati itu datang kembali. Sedang orang-orang di Sangkal Putung menyangka kau pasti akan mampu melawannya. Karena itu, belajarlah berbuat, berpikir dan bersikap seperti seorang laki-laki”.
Terasa denyut nadi Agung Sedayu menjadi semakin cepat. Kata-kata pamannya itu benar-benar mendebarkan jantungnya. Tetapi ia tidak tahu, apakah yang harus dikatakannya. Ketika ia tidak segera menjawab, pamannya berkata terus “Apa yang akan aku lakukan, adalah mencoba menambah kepercayaanmu kepada dirimu. Marilah kita berlatih. Untuk seterusnya setiap malam kita berlatih disini. Supaya apabila suatu ketika, kau harus berbuat seperti laki-laki sewajarnya, ada bekalmu meskipun sedikit. Seterusnya, kalah atau menang, tidak menjadi soal. Kalau kita mati dalam pertempuran nama kita akan tetap dikenang. Tatapi kalau kita lain daripadanya, maka nama kita akan senilai dengan daun-daun kering yang diterbangkan angin”
Debar didada Agung Sedayu menjadi semakin keras. Kembali ia mengeluh. Ia merasa, bahwa kedatangannya di Sangkal Putung, benar-benar seakan-akan terjerumus kedaerah yang sama sekali tak menyenangkan. “Kalau kakang Untara malam itu tidak menjerumuskan aku keneraka ini” gumamnya didalam hati “Kenapa kakang Untara meributkan laskar paman Widura disini? Apakah kalau aku tidak datang kemari, Sangkal Putung ini benar-benar akan dihancurkan oleh Macan Kepatihan?”
Tetapi Agung Sedayu tidak sempat berangan-angan lebih panjang lagi. Dilihatnya pamannya menyingsingkan lengan bajunya, menarik ujung kainnya dan disisipkannya kebelakang. “Bersiaplah Sedayu. Aku tahu bahwa kakakmu pernah memberimu dasar-dasar latihan. Sekarang kita lihat, sampai dimana kau pernah memilikinya”
Dengan segannya, Agung Sedayu pun mempersiapkan diri. Sebenarnya ia pernah menerima beberapa pengetahuan tata bela diri dari kakaknya. Dan kini, mau tak mau ia harus mempergunakannya. Pamannya agaknya akan mempergunakan cara yang langsung dalam latihan ini. Dan ternyata dugaan itu benar. Pamannya tidak menuntunnya, mempelajari unsur demi unsur, namun Widura itu langsung melihat Agung Sedayu dalam latihan bertempur.
“Awas Sedayu” berkata pamannya. Dalam pada itu Widura pun telah meloncat sambil menyerang dada.
Agung Sedayu terkejut. Cepat ia mengendapkan diri. Tangan Widura itupun melayang beberapa jengkal diatas kepalanya.
“Paman!”teriak Sedayu” Jangan terlalu keras”
Langkah Widura terhenti. Dengan heran ia bertanya “Apa yang terlalu keras?”
“Paman menyerang bersungguh-sungguh” sahut Agung Sedayu
Pamannya menarik nafas, jawabnya “Tidak. Tetapi aku harus berbuat seakan-akan sungguh-sungguh. Sebab dalam perkelahian kau tak adan dapat dengan rendah hati mohon agar lawan-lawanmu tidak bersungguh-sungguh”
Sekali lagi debar dijantung Sedayu menjadi bertambah cepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada menuruti perinta pamannya itu. Karena itu kembali ia bersiap. Melakukan latihan adalah jauh lebih baik dari bertempur yang sebenarnya. Ketika pamannya menyerang sekali lagi, Agung Sedayu pun mengelak pula, dengan satu loncatan ia membebaskan dirinya. Tetapi Widura tidak berhenti. Dengan cepat ia berputar, dan serangannya beruntun menyambar Agung Sedayu.
Gerakan itu tidak begitu sulit untuk dielakkan. Kakaknya pernah juga berbuat seperti pamannya itu. Satu kali Agung Sedayu melangkah kesamping, kemudian dengan menarik satu kakinya terbebas dari serangan tangan pamannya yang mengarah pundaknya. Ketika kemudian Widura memutar kakinya mendatar setinggi lambung, Sedayupun mencondongkan tubuhnya kebelakang sehingga kaki pamannya itu lewat beberapa jengkal dari tubuhnya.
Tetapi Widura tidak berhenti menyerang. Bahkan serangan-serangannya menjadi semakin cepat. Namun Agung Sedayu masih juga mampu mengelak. Selangkah demi selangkah ia melangkah surut untuk menghindarkan serangan-serangan pamannya. Sehingga akhirnya terdengar pamannya berkata “Apakah kau hanya belajar menghindar saja? Coba bagaimana kakakmu mengajarmu menyerang”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Gerak pamannya tidak jauh berbeda dari kakaknya . Keduanya bersumber dari ilmu ayahnya. Karena itu Sedayu tidak begitu sulit melayani pamannya. Kini pamannya minta, agar sekali-sekali ia menyerangnya juga. Dan permintaan itupun dipenuhinya. Karena itu latihan itu menjadi semakin cepat. Agung Sedayu benar-benar mengherankan pamannya. Ternyata gerakan-gerakan yang dilakukan bukanlah gerakan-gerakan yang sederhana seperti anak-anak muda yang sedang menerima dasar-dasar ilmu bela diri. Tetapi Agung Sedayu telah memilikinya agak lengkap, meskipun karena kurang penggunaannya, maka sekali-sekali tampak juga anak muda itu kurang dapat memanfaatkan beberap unsur yang bagus sekali.
“Hem” desah pamannya didalam hati. “Anak ini bukan anak yang bodoh. Sayang, lingkungannya pada masa kanak-kanak telah membentuknya menjadi seorang pengecut”. Tetapi angan-angan itu patah, ketika Widura mendengar suara tertawa disamping mereka. Suara yang bernada tinggi melengking, meskipun tidak terlalu keras.
Agung Sedayu terkejut bukan kepalang. Yang mulai melintas dikepalanya adalah Macan Kepatihan. Karena itu, ketika ia melihat pamannya memutar tubuhnya dengan kesiagaan penuh, segera ia meloncat berlindung dibelakangnya.
Ketika mereka berdua memandang kearah suara itu, mereka melihat samar-samar seseorang bersandar pohon kelapa sawit diatas puntuk kecil yang mempunyai nama besar, Gunung Gowok.
Widura masih tegak seperti patung. Dipandanginya orang yang bersandar pohon kelapa sawit itu dengan wajah yang tegang. Meskipun demikian Widura melangkah beberapa langkah maju sambil bertanya “Siapakah kau?”
Agung Sedayu yang juga dengan berdebar-debar ikut pula maju beberapa langkah berbisik dengan suara gemetar “Apakah itu Macan Kepatihan?”
Widura tidak mendengar pertanyaan itu. Karena itu ia tidak menjawab. Namun sekejappun ia tidak meninggalkan kewaspadaan.
Orang yang bersandar itu masih juga bersandar. Widura yang melangkah mendekatinya itu sama sekali tak diperhatikannya. Suara tertawanya yang bernada tinggi itu bahkan terdengar kembali.
“Siapakah kau” Widura mengulangi pertanyaannya.
Suara tertawa itupun kemudian menjadi semakin lirih. Dan terdengarlah orang itu berkata “Latihan yang bagus”
Widura menjadi semakin bercuriga. Dengan hati-hati ia melangkah maju pula. Tangannya telah melekat dihulu pedangnya. Katanya “Jangan menggangu kami. Katakanlah siapakah kau supaya aku dapat mengambil sikap”
Orang itupun kemudian berdiri tegak. Beberapa langkah ia maju mendekati Widura. Sehingga akhirnya mereka dapat saling melihat wajah masing-masing.
Ketika Widura melihat wajah orang itu, mula-mula ia terkejut. Wajah itu tampak seputih mayat. Namun kemudian Widura menyadarinya, orang itu telah menutup wajah aslinya dengan sebuah topeng yang berwarna kekuning-kuningan.
Orang itu seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Agung Sedayu. “Sedayu, apakah yang sedang engkau kerjakan? Apakah kau sedang melatih orang ini?”
Dada Widura berdesir mendengar pertanyaan itu. Ternyata orang itu telah mengenal Agung Sedayu. Namun karena itu, segera Widura pun mengenalnya, orang itulah agaknya yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Karena itu kembali ia bertanya “Apakah kau yang menamakan dirimu Kiai Gringsing?”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Darimanakah kau tahu bahwa aku bernama Kiai Gringsing? Apakah gurumu itu telah memberitahukannya kepadamu?”
Sekali lagi dada Widura berdesir. Orang itu menganggapnya murid Agung Sedayu.
Dalam pada itu, Agung Sedayu pun segera mengenal bahwa orang itulah yang dahulu pernah menemuinya di Bulak Dawa. Suaranya dan caranya berkerudung kain gringsing, meskipun topengnya bukan topeng yang dipakainya itu. Karena itu tanpa disadarinya, ia menjadi gembira. Ternyata Agung Sedayu tidak takut lagi kepada Kiai Gringsing. Sejak pertemuannya yang pertama orang itu tidak bermaksud jahat kepadanya. Maka Sedayupun segera melangkah maju sambil berkata “Benarkah kau Kiai Gringsing yang diBulak Dawa itu?”
Kiai Gringsing mengangguk, jawabnya “Tentu, tak ada dua tiga Kiai Gringsing”
Tiba-tiba Sedayu itupun teringat kepada orang yang pernah menamakan diri Kiai Gringsing pula di dukuh Pakuwon. Maka katanya “Tidak. Yang sudah aku ketahui, ada dua Kiai Gringsing. Yang lain adalah seorang yang sudah sangat tua dan bongkok”
Kiai Gringsing menggeleng, katanya “Jangan bergurau. Teruskan saja pekerjaanmu. Aku tidak akan mengganggu. Muridmu itu perlu segera mendapat tuntunan yang lebih berat. Agaknya ia murid yang cukup baik”
“Ah” desah Agung Sedayu. “Jangan berkata begitu. Itu adalah pamanku. Dan justru pamanku itu sedang mengajari aku, supaya aku mempunyai bekal dihari-hari mendatang”
Kiai Gringsing itupun tertawa berkepanjangan. Katanya “Kau benar-benar seperti almarhum ayahmu. Tetapi kau jangan terlalu merendahkan dirimu. Sekali-sekali kau perlu juga menunjukkan bahwa kau adalah putra Ki Sadewa”
“Itu adalah pamanku” Agung Sedayu mengulangi. Tetapi ketika ia akan meneruskan kata-katanya, terdengar Kiai Gringsing memotong “Aku sudah tahu. Orang itu adalah pamanmu. Bukankah ia bernama Widura? Dan bukankah ia adik ibumu? Apa salahnya kalau kau ajari orang itu satu dua unsur-unsur gerak keturunan dari Ki Sadewa? Menurut pengamatanku, Widura itupun pernah juga belajar selangkah dua langkah. Karena itu adalah menjadi kewajibanmu untuk menyempurnakan”
Mendengar kata-kata itu, telinga Agung Sedayu menjadi merah. Ia takut kalau pamannya tersinggung karenanya. Maka katanya “Kiai, hidup matiku disini tergantung kepada paman. Jangan mempersulit keadaanku”
Sekali lagi Kiai Gringsing tertawa, terkekeh-kekeh sehingga tubuhnya seakan-akan berguncang-guncang.
Widura masih tegak seperti patung. Ia mendengar semua percakapan itu. Meskipun ia terkejut dan heran, karena namanyapun telah diketahui pula, bahkan hubungan keluarganya, tetapi ia masih berdiam diri. Meskipun demikian, namun otaknya sedang bekerja dengan riuhnya. Dicobanya sekali lagi mengingat-ingat apa yang pernah dilihatnya di dukuh Pakuwon. Ketiga kuda yang diikutinya berjalan dari rumah Ki Tanu Metir kejurusan yang sama. Tiba-tiba Widura menemukan sesuatu. Karena itu dengan tiba-tiba pula ia berkata “Baiklah Kiai Gringsing, aku tidak keberatan, apa saja yang kau katakan tentang kami berdua. Meskipun demikian, aku ingin bertanya kepadamu, dimanakah Untara dam Ki Tanu Metir? Agaknya kau benar-benar orang yang berpengetahuan luas. Kau kenal kemenakanku Agung Sedayu, kau sebut-sebut nama kakak iparku, dan akhirnya kau kenal namaku. Dengan demikian, adalah suatu kemungkinan pula, bahwa kau mengetahui dimana kemenakanku yang seorang itu”
Orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing itu mengerutkan lehernya. Kemudian terdengar ia tertawa pendek. Jawabnya “Tentu. Tentu aku tahu semuanya. Untara kini menjadi salah seorang tamtama Pajang sedang yang kau maksud dengan Ki Tanu Metir itu adalah seorang tukang obat dari dukuh Pakuwon?”
“Jangan berpura-pura” potong Widura , “Kau tahu bahwa bukan itulah jawabnya”.
“He” Kiai Gringsing terkejut. “Aku adalah seseorang yang tahu semuanya. Apakah jawabku salah?”
“Jangan menyangka aku seorang kanak-kanak seperti Agung Sedayu “ Sahut Widura . Tetapi Kiai Gringsing itu malahan tertawa berkepanjangan. Katanya “Hem, tentu. Baru beberapa hari kau menjadi murid Agung Sedayu? Kau tentu tak akan dapat dipersamakannya”
Semakin lama Widura menjadi semakin jengkel karenanya. Namun dicobanya mengendalikan dirinya, dan dicobanya bertanya pula “Kiai, katakanlah kepada kami, dimana Untara sekarang?”
What's Related