Api di Bukit Menoreh 14 - SH. Mintarja
Meskipun demikian Widura mempertimbangkan pula pendapatnya. Tanpa disengajanya, sekali lagi ia melihat akibat kekasaran Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Kriya yang lemah itu kini masih berbaring dipembaringannya. Namun tiba-tiba pula ia menjadi heran. Luka itu terlalu berat. Namun penderitaan orang itu agaknya telah jauh berkurang. Karena itu tiba-tiba ia bertanya “Ki Sanak, apakah luka-lukamu tak pernah diobati?”
“Pernah tuan” jawab Kriya sambil menyeringai.
“Bukankah biasanya Ki Tanu Metirlah yang memberi obat kepada orang-orang sakit? Dan sekarang orang itu telah tidak ada dirumahnya” bertanya Widura.
“Ya” jawab Kriya. “Tetapi semalam datang pula orang yang mencari Ki Tanu Metir. Orang yang sudah sangat tua. Katanya ia adalah sahabat Ki Tanu Metir. Seorang dukun pula. Dan diberinya aku obat”
Oh” Widura mengangguk-angguk. “Siapakah namanya?”
Kriya menggeleng. Jawabnya “Ketika aku bertanya namanya, orang itu menjadi bingung. Akhirnya ia menjawab sambil menunjukkan kain yang dipakainya. Kiai Gringsing”
Widura terkejut mendengar jawaban itu. Apalagi Agung Sedayu. Dengan serta merta ia bertanya “Adakah Kiai Gringsing itu bertopeng?”
Sekali lagi Kriya menggeleng “Tidak” jawabnya. “Namun wajahnya aneh juga. Berkeriput dan dipakainya pilus didahinya. Aku takut kalau bertemu dengan orang itu dimalam hari seorang diri”.
Widura mengerutkan keningnya. Keterangan itu sangat menarik perhatiannya. Karena itu maka ia bertanya pula “Apakah yang dilakukan oleh orang itu kemudian?”
“Tidak apa-apa” jawab Kriya “Setelah diketahuinya bahwa rumah sahabatnya kosong, dan diberinya aku obat, maka iapun segera pergi. Katanya, ia takut kalau-kalau orang yang mencari Ki Tanu Metir lusa kembali dan menangkapnya pula”
“Tanu Metir ditangkap dalam hubungannya dengan orang yang disembunyikan” sahut Widura.
“Mungkin” jawab Kriya. “Tetapi orang tua itu berkata bahwa laskar kedua pihak yang sedang memerlukan dukun-dukun untuk mengobati kawan-kawan mereka yang terluka. Mungkin Ki Tanu Metir telah mereka bawa untuk keperluan itu”
Widura menarik keningnya. Keterangan itu masuk akan juga. Tetapi cerita tentang Kiai Gringsing itu mungkin ada juga gunanya, maka Widura itupun berkata “Apakah kau melihat tanda-tanda yang aneh pada orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing?”
“Tidak” sahut Kriya. “Selain bahwa orang itu telah terlalu tua. Agak bongkok”
“Adakah kau tanyakan rumahnya?”
“Ya. Tetapi tak diberitahukannya. Katanya, apabila Ki Tanu Metir sudah pulang, maka ia sudah tahu, siapakah dirinya”
Widura menarik nafas. Tak ada yang dapat diketahui tentang Kiai Gringsing. Namun ia mendapat suatu kesimpulan, bahwa Kiai Gringsing benar-benar orang yang tak mau dikenal. Agung Sedayu pernah bertemu dengan orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Belum terlalu tua dan bertopeng atau lebih tepat hanya sebuah tutup muka dengan tiga buah lubang, diarah mata dan hidungnya. Bahkan dengan seenaknya, bersenjata cambuk kuda orang itu dapat mengalahkan Alap-alap Jalatunda. Sedang orang yang menamakan Kiai Gringsing pula, datang kepada Kriya. Orang itu telah terlalu tua, bongkok. Tetapi satu hal yang dapat ditarik persamaan dari keduanya, wajah keduanya bukanlah wajah aslinya. Yang datang kepada Kriya itupun berwajah aneh dan menakutkan, bahkan memakai pilis didahinya. Bukankah itu juga suatu usaha untuk menyembunyikan diri?
Tetapi Widura tidak mau tenggelam dalam persoalan orang yang tak dikenalnya. Baginya, Untara lebih penting dari orang yang menamakan diri Kiai Gringsing itu. Karena itu maka sekali lagi ia minta diri “Terima kasih atas semua keteranganmu, ki sanak” berkata Widura kepada Kriya, kemudian kepada Wangsa Sepi “Ki sanak, ingat-ingatlah apa yang terjadi kemudian. Mungkin aku akan datang kembali beberapa hari yang akan datang. Mungkin ada hal-hal yang dapat memberi penjelasan atas hilangnya Ki Tanu Metir”
“Baiklah tuan” jawab Wangsa Sepi sambil mengangguk.
Widura, Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang menunggu diluar segera meninggalkan rumah Kriya Bungkik. Mereka kembali kehalaman rumah Ki Tanu Metir. Dengan hati-hati Widura meneliti bekas-bekas kaki kuda dihalaman itu. Kemudian katanya “Kita coba mengikuti bekas-bekas kaki kuda Ki Tanu Metir. Mungkin kuda itu dipakai oleh orang-orang yang mengambilnya”
Kembali Agung Sedayu menjadi gelisah. Katanya berbisik “Bagaimanakah kalau kita akan sampai kesarang Alap-alap Jalatunda itu?”
“Suatu kebetulan” sahut Widura. “Segera kita akan tahu, bagaimanakah nasib Untara dan Ki Tanu Metir”
“Tetapi bagaimanakah dengan nasib kita sendiri?”
Widura menarik nafas, katanya “Lalu apakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah kita biarkan saja Untara hilang?”
“Tidak” jawab Sedayu. “Kita harus mencari kakang Untara. Tetapi apakah kita tidak kembali ke Sangkal Putung dahulu, dan paman membawa laskar lebih banyak lagi?”
“Kita akan banyak kehilangan waktu Sedayu” jawab pamannya. “Sedang laskarkupun sangat terbatas. Kalau sebagian dari mereka meninggalkan tempatnya, bagaimanakah jadinya Sangkal Putung itu, apabila Tohpati datang kembali siang ini?”
Seayupun terdiam. Namun hatinya tidak tentram. Di Sangkal Putung ia takut apabila Tohpati datang kembali. Mengikuti pamannya ia cemas apabila mereka bertemu dengan Alap-alap Jalatunda. Namun ia tidak dapat menentukan pilihan. Karena itu ia harus ikut saja kemana pamannya pergi.
Widura kemudian seakan-akan tidak memperhatikan Agung Sedayu lagi. Dengan penuh minat ia melihat telapak-telapak kaki kuda dihalaman itu. Kemudian dipanggilnya kawan-kawannya mendekat, dan terdengar ia berkata “Kita ikuti telapak kaki-kaki kuda ini”
Kawan-kawannyapun memperhatikan telapak itu dengan seksama. Mereka harus berusaha membedakan dengan telapak kaki yang lain. Apabila mungkin, maka mereka akan dapat mengikuti kemana kuda itu pergi. “Mudah-mudahan kita menemukan tempatnya” gumam Widura. Sedang Agung Sedayu menjadi berdebar-debar mendengarnya.
Sejenak kemudian, merekapun telah siap diatas punggung kuda masing-masing. Perlahan-lahan mereka berjalan menyusur jalan desa yang sempit sambil memperhatikan jalan dibawah kaki-kaki kuda mereka, supaya mereka tidak kehilangan jejak.
“Tiga ekor kuda” geram Widura.
“Ya” sahut kawannya. Selain itu mereka masih melihat telapak-telapak kaki yang lain. Namun telapak-telapak kaki itu mengarah kearah yang berlawanan. Diantaranya telapak-telapak kaki kuda mereka sendiri pada saat mereka memasuki desa itu.
“Dua diantaranya adalah telapak kaki kuda Sedayu dan Alap-alap Jalatunda yang menyusulnya ke Sangkal Putung” gumam Widura. “Apabila ada salah satu daripadanya memisahkan diri dari jalan ini, maka kuda itulah yang telah dipergunakan Plasa Ireng atau salah seorang daripadanya. Dan kita akan mengikuti arahnya”
Kawan-kawannya itupun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Meskipun didalam hati mereka terbersit pula rasa kawatir. Apabila mereka benar-benar sampai disarang Alap-alap itu, maka pekerjaannya tidak akan kalah beratnya dengan menyongsong kehadiran laskar Tohpati di Sangkal Putung. Mungkin mereka akan menghadapi lawan yang berlipat. Namun hati mereka menjadi tenteram ketika mereka melihat kedua orang yang berkuda didepan mereka. Widura dan adik Untara. “Mereka berdua tak akan terkalahkan” gumam mereka didalam hati.
Karena itu mereka menjadi tenteram. Meskipun demikian sekali-sekali mereka meraba hulu-hulu pedang mereka, seakan-akan mereka sedang bersepakat dengan senjata-senjata mereka, bahwa mereka akan menempuh suatu perjuangan yang berat.
Disepanjang jalan hampir mereka tidak bercakap-cakap. Mereka sedang sibuk memperhatikan bekas-bekas kaki kuda dibawah mereka. Hanya Agung Sedayulah yang kadang-kadang menarik nafas panjang untuk mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Sebenarnya ingin juga ia segera mengetahui nasib kakaknya, namun ia cemas apabila dibayangkannya orang-orang yang kasar dan keras menghadang ditengah-tengah jalan dengan senjata-senjata dilambung. Meskipun demikian ia tidak berkata sepatah katapun. Ketika ia menoleh, dilihatnya orang-orang yang berkuda dibelakangnya, sama sekali tidak menunjukkan kecemasan mereka. Bahkan ketika mereka melihat Agung Sedayu menoleh kepada mereka, hampir bersamaan mereka tersenyum dan menganggukkan kepala mereka. Agung Sedayupun mengangguk. Tetapi ia tidak tahu, kenapa orang-orang itu mengangguk kepadanya, dan ia juga tidak tahu, kenapa ia mengangguk pula.
Semakin jauh mereka dari pedukuhan Pakuwon, hati Widura menjadi semakin heran. Telapak kaki kuda itu tidak terpisah. Ketiganya menuju Sangkal Putung. “Aneh” desis Widura. “Apakah salah seorang dari anak buah Plasa Ireng itu pergi juga ke Sangkal Putung selain Alap-alap Jalatunda?” Namun Widura tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
Demikianlah mereka tetap mengikuti jejak-jejak itu. Tetapi mereka tak menemukan titik perpisahan dari jejak-jejak itu. Bahkan akhirnya mereka sampai juga di Bulak Dawa. Dan jejak-jejak itu masih mengikuti jalan terus ke Sangkal Putung.
Widura juga sedang mempertimbangkan setiap kemungkinan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apakah kita tidak keliru?” gumamnya.
“Apa yang keliru paman?” bertanya Agung Sedayu.
Sekali lagi Widura memandangi jejak-jejak kaki kuda yang sudah tidak begitu jelas lagi. “Apakah ada jejak-jejak lain yang sudah terhapus?” gumamnya.
Agung Sedayu tidak menjawab. Dan ketika kawan-kawan mereka itu telah dekat benar dengan Widura, Widurapun bertanya kepada mereka “Adakah kalian melihat salah satu diantaranya memisahkan diri?”
Orang-orang itu menggeleng. “Tidak” jawab salah seorang dari mereka. “Kami telah mencoba mengawasi dengan seksama setiap simpangan. Entahlah kalau jejak-jejak itu telah tidak dapat dilihat lagi”
Widura mengangguk-angguk. Namun jalan yang sepi itu, agaknya belum banyak dilalui orang. Apalagi kuda atau gerobag. Maka katanya “Kita ikuti jejak itu untuk seterusnya. Kalau kita tidak menemukan sesuatu, kita kembali ke Sangkal Putung. Lain kali aku akan mencarinya”.
Ketiga orang itupun mengangguk, dan Sedayupun menjadi agak berlega hati. Namun meskipun demikian, ia selalu cemas akan nasib kakaknya. Satu-satunya saudaranya, yang selama ini, bahkan sejak kecil selalu menjaganya dan melindunginya dengan baik.
Pada saat-saat dirinya mengalami kesulitan yang paling kecil sekalipun maka kakaknya selalu datang menolongnya. Bahkan kakaknya itu telah banyak sekali mengorbankan kepentingannya sendiri untuknya.
Kini kakaknya itu mengalami bencana. Apakah yang dapat dilakukannya? Jiwa Agung Sedayu itupun menjadi bergolak. Ingin juga ia datang berkuda menerobos masuk kedalam sarang orang-orang yang mungkin menculik kakaknya dengan pedang terhunus ditangan. Ingin ia menolong dan menyelamatkannya. Tetapi kemudian Agung Sedayu hanya dapat menggigit bibirnya. Tak ada keberanian untuk melakukannya. Dan disadarinya bahwa apa yang dapat dilakukan hanyalah berangan-angan.
Mereka masih saja berkuda mengikuti jalan ke Sangkal Putung. Meskipun tidak sendiri, namun bulu-bulu Agung Sedayu meremang juga ketika mereka lewat dibawah randu alas yang besar ditikungan. Setiap kali ia melihat pohon randu alas itu setiap kali ia teringat cerita tentang genderuwo bermata satu.
Tetapi Widura sama sekali tidak mempedulikan cerita itu. Ia masih sibuk mencoba mengurai keanehan yang dihadapinya. Telapak-telapak itu benar-benar menuju ke Sangkal Putung. Tetapi sampai sekian jauh belum juga menemukan jawaban. Apalagi ketika mereka kemudian sampai pada daerah yang berbatu-batu. Telapak-telapak kaki kuda itu seakan-akan lenyap dijilat hantu. Karena itu, Widura menjadi semakin cemas. Tetapi tak ada hal-hal yang dapat memberinya petunjuk.
Agung Sedayu hanya dapat menundukkan wajahnya. Tetapi matanya menjadi panas, dan dijantungnya seperti akan pecah. Tetapi tidak lebih daripada itu. Agung Sedayu tidak dapat berbuat apapun selain meratap dengan sedihnya.
Ketika mereka sampai dihalaman kademangan, beberapa orang datang menyongsong mereka. Citra Gati, Hudaya, Sidanti, Swandaru dan beberapa orang lain. Sebelum Widura masuk kepringgitan, berbagai-bagai pertanyaan harus dijawabnya. Dan orang-orang itupun menjadi kecewa pula. Mereka mengharap Untara ada diantara mereka, namun ternyata orang itu telah lenyap.
Hanya Sidantilah yang sama sekali tidak menaruh minat akan hilangnya Untara. “Biarlah anak itu hilang. Dan biarlah orang-orang di Sangkal Putung menyadari, bahwa bukan Untaralah orang yang paling sakti diantara kita. Tohpati itu tidak terpaut banyak denganku. Apabila guru datang kemari, aku akan mendapat petunjuk bagaimana harus mengalahkannya” katanya didalam hati.
Tetapi ketika terlihat pula olehnya Sedayu, Sidanti mengangkat alisnya. Dan hatinya berkata pula “Apakah anak ini benar-benar dapat, setidak-tidaknya mendekati kesaktian Untara?” Sindanti menarik bibirnya kesisi. Kemudian ia berjalan disamping pendapa dan sama sekali tak mengacuhkan lagi, apakah yang terjadi di dukuh Pakuwon.
Disamping pendapa Sidanti berhenti. Dilihatnya Sekar Mirah berjalan kearahnya. “Siapa yang datang?” gadis itu bertanya.
“Kakang Widura” jawab Sidanti.
“Dengan anak muda yang bernama Agung Sedayu, adik Untara?” bertanya Sekar Mirah pula.
Sidanti menarik alisnya. Katanya “Ya, tetapi apakah kau mempunyai kepentingan dengan anak itu?”
“Tidak. Tetapi aku ingin melihatnya. Menurut ayah, anak itulah yang telah menyelamatkan Sangkal Putung”.
“Omong kosong” sahut Sidanti. “Apa yang telah dilakukannya? Ia hanya datang atas nama kakaknya, mengabarkan bahwa laskar Tohpati akan datang. Selebihnya tidak. Akulah yang terluka oleh senjata Tohpati itu. Aku tidak yakin, kalau Agung Sedayu dapat menyelamatkan hidupnya seandainya ia harus menghadapi Macan Kepatihan itu”
Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi matanya dengan nanar menyapu pendapa rumahnya. Namun yang dicarinya telah tidak tampak lagi. Widura dan Agung Sedayu telah masuk ke pringgitan. Dipringgitan, demang Sangkal Putung telah duduk menunggunya.
“Marilah adi” Ki Demang mempersilakan.
Kemudian merekapun duduk melingkar diatas tikar pandan yang putih. Widura sekali lagi megulangi, apa yang dilihatnya di dukuh Pakuwon. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata “Aku tidak berhasil menemukannya”
Demang Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sayang” desisnya.
Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Masing-masing tenggelam didalam angan-angannya. Kadang-kadang Sedayu masih mendengar, pamannya menggeram menahan perasaan kecewa yang merayapi dadanya. Kecewa atas hilangnya Untara dan Ki Tanu Metir, dan kecewa akan kemenakannya yang seorang lagi. Agung Sedayu. Banyak persoalan yang akan dihadapinya. Tohpati yang pasti tak akan melepaskan Sangkal Putung, Untara dan Ki Tanu Metir yang harus diketemukan hidup atau mati, dan Agung Sedayu dilingkungan anak buahnya. Widura yang telah banyak menghayati berbagai pengalaman, melihat, betapa Sidanti dengan tidak disangka-sangka menempatkan sebuah persoalan dengan kemenakannya itu. Tanggapannya yang kurang menyenangkan dan harga dirinya yang berlebih-lebihan.
Sedang apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu tidak lebih daripada meratap dan berangan-angan. Ia sama sekali tidak berusaha untuk melindungi dirinya sendiri.
Sekar Mirah, ketika tidak berhasil melihat orang yang dicarinya, kemudian berlari kebelakanng. Ketika ia masuk kedapur dilihatnya seorang pembantunya siap mengantarkan mangkuk-mangkuk minuman ke pringgitan. Maka dengan serta merta gadis itu merebutnya sambil berkata “Biarlah aku yang mengantarkan.”
Pembantunya tidak dapat menolaknya. Sehingga kemudian Sekar Mirah sendirilah yang mengantarkan minuman itu. Dan dengan demikian gadis itu berhasil melihat anak muda yang bernama Agung Sedayu dengan jelas.
Agung Sedayu yang selalu menundukkan wajahnya, tak menyadarinya, bahwa seseorang telah mengawasinya dengan cermat. Sekar Mirah yang kemudian meninggalkan pringgitan, masih selalu menatap wajah anak muda itu dari balik pintu.
“Nama yang baik” desis Sekat Mirah. Dan tiba-tiba gadis itu terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya.
“Ah” desisnya “Kau mengejutkan aku Kakang Sidanti.”
“Apakah yang kau intip?” bertanya Sidanti.
“Ayah” jawab Sekar Mirah tergagap
“Kenapa dengan Ki Demang?” desak anak muda itu.
“Tak apa-apa. Aku hanya ingin tahu, kenapa ia mengeluh” sahut Sekar Mirah, yang kemudian ganti bertanya “Apa kerjamu disini?”
“Tak apa-apa. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau mengintip” jawab Sidanti sambil tersenyum.
“Ah” desis Sekar Mirah “Keluarlah. Kau mengganggu aku disini.”
Sidanti menggeleng. Jawabnya “Marilah kita keluar bersama-sama.”
Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia melangkah pergi ke halaman belakang. Sedang Sidanti mengikutinya dibelakang.
“Apakah kau sudah melihat anak itu?” bertanya Sidanti kemudian.
“Ya” jawab Sekar Mirah “Baru sekarang aku melihatnya dengan jelas. Anak itu datang lewat tengah malam. Dan kemarin hampir sehari penuh aku membantu didapur. Baru kemarin sore aku mendengar nama itu. Nama yang bagus.” Sekar Mirah berhenti sejenak ketika ia melihat dahi Sidanti mengkerut, kemudian ia meneruskan “Seperti namamu.”
Sidanti tersenyum. Namun senyumnya terasa hambar. Meskipun demikian ia berdiam diri, sehingga Sekar Mirah berkata terus “Tadi pagi aku melihatnya. Ketika hampir setiap orang menyebut namanya karena keberanian dan ketangkasannya, baru aku ingin melihat wajahnya. Dan wajahnyapun baik sebaik namanya.”
Sekali lagi sidanti mengerutkan keningnya. Sahutnya “Huh, wajah itu tak akan langgeng. Lihat, hampir setiap wajah laki-laki disini pasti ditandai goresan-goresan luka. Hudaya dikening dan pipinya. Citra Gati dibelakang telinga kiri dan hidungnya. Sonya dipelipis kanan dan dahinya. Patra dibahunya. Belum lagi yang tertutup oleh pakaian-pakaian mereka. Bahkan Sendawa telah kehilangan sebelah matanya”.
Hampir segenap bulu Sekar Mirah berdiri “Ngeri” katanya. “Dan apakah pasti bahwa setiap waah akan terluka. Wajahmu juga?”
“Itulah sebabnya aku berusaha untuk dapat melindungi tubuhnya dengan kesaktian. Meskipun demikian pundakku telah terluka. Untunglah tidak seberapa. Lalu, apalah kau sangka bahwa Sedayu itu mampu melindungi wajahnya yang tampan itu? Lihat, kalau sekali lagi Tohpati datang, pasti anak itu akan melawannya. Aku berani bertaruh, bahwa ia akan menjadi cacat”
Sekar Mirah mendengar kata-kata Sidanti dengan hati yang cemas. Benarlah seperti apa yang dilihatnya, hampir setiap laki-laki dipendapa rumahnya menderita cacat ditubuhnya, meskipun hanya goresan-goresan dikulitnya. Dan tanpa sesadarnya ia bertanya “Apakah kalau orang yang menyebut dirinya Tohpati itu datang kembali, Agung Sedayu harus melawannya?”
“Itu adalah kehendaknya sendiri. Ia ingin menunjukkan kepada kita disini, bahwa kita disini adalah orang-orang yang tidak berarti baginya. Ternyata, kemarin ketika aku minta untuk menghadapi Macan Kepatihan itu, maka Sedayu menjadi sakit hati”.
Kini Sekar Mirah tidak bertanya-tanya lagi. Bahkan ia berkata “Kembalilah kepada kawan-kawanmu. Aku akan membantu orang-orang yang bekerja didapur”.
“Sekehendakmulah” sahut Sidanti. “Dan sekehendakkulah, apabila aku ingin tinggal disini”
“Ini rumahku” bantah Sekar Mirah sambil bertolak pinggang. Sidanti tertawa. Katanya “Baiklah. Aku harap bahwa aku akan tinggal dirumah ini pula”
“Huh” jawan Sekar Mirah sambil mencibirkan bibirnya. “Apakah hakmu”
“Tidak ada” sahut Sidanti.
Sekar Mirah tidak berkata-kata lagi. Cepat-cepat ia pergi meninggalkan Sidanti dan menuju kedapur. Sidanti mengawasi gadis itu sampai hilang dibalik pintu. Tetapi tiba-tiba saja anak muda itu menarik keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia bergumam “Sedayu harus disingkirkan dari rumah ini. Lebih cepat lebih baik. Tetapi aku tak punya alasan untuk melakukannya. Mudah-mudahan Tohpati segera datang kembali. Aku ingin melihat, apakah aku berada dibawahnya atau setidak-tidaknya menyamainya”. Sidanti menarik nafas, dan terdengar bergumam terus “Sayang ia kemenakan kakang Widura. Tetapi kakang Widura itu sendiri tidak lebih daripada aku”.
Sidanti itupun kemudian berlahan-lahan melangkah pergi. Ia berjalan melingkari gandok wetan, kemudian sampailah ia disisi pendapa. Dilihatnya beberapa orang kawannya sedang berbaring dengan nyamannya dibawah pohon sawo. Tetapi ia tidak pergi kesana. Anak muda itu langsung naik kependapa, berjalan kesudut dan diraihnya senjatanya yang terbungkus kain putih dan tersangkut didinding. Kemudian sambil duduk disudut pendapa itu, Sidanti menggosok tangkai senjatanya dengan angkup keluwih. Hati-hati seperti seorang pemuda membelai rambut kekasihnya.
Demikianlah maka sejak hari itu Agung Sedayu mencoba bergaul dengan anak buah Widura. Beberapa orang bersikap sedemikian homat kepadanya, sehingga Agung Sedayu menjadi sangat canggung karenanya. Hanya Sidanti sajalah yang bersikap acuh tak acuh kepada anak muda itu. Sekali-sekali ia bertanya juga, namun kemudian lebih baik ia membelai neggalanya, Kiai Muncar, daripada bergaul dengan Agung Sedayu. Apalagi sikap canggung Agung Sedayu benar-benar tak menyenangkannya. Sikap itu dirasakan oleh Sidanti sebagai sikap yang sombong.
What's Related